Status pandemi Covid-19 yang melanda seluruh bagian dunia telah berdampak pada semua lini perekonomian, termasuk pula pada mata rantai penyediaan bahan baku pakan untuk makanan ternak yang pada gilirannya berdampak pada produksi ternak Nasional. Kondisi ini perlu disikapi dengan bergerak nyata untuk dapat menyesuaikan diri menghadapi era pasca pandemi. Untuk mendiskusikan hal ini, Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Hasanuddin (HUMANIKA-UNHAS) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan ternak IPB University (HIMASITER) menyelenggarakan Kuliah Umum Online yang bertemakan “Strategi Pemenuhan Bahan Pakan dan Feed Additive Komoditas Unggas di Masa Pandemik Covid-19 dan New Normal” (Minggu, 7 Juni 2020).
Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber berlatar belakang akademisi dan praktisi yaitu Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc selaku Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) yang merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, dan Ir. Teddy Candinegara selaku Direktur PT. Behn Mayer Chemicals yang juga merupakan Alummi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Kuliah umum ini dilaksanakan secara online melalui media Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Resmi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin sehingga peserta yang hadir dalam acara ini sangat banyak bukan hanya dari unhas dan IPB saja akan tetapi dari seluruh penjuru Nusantara yang telah melaksanakan pendaftaran secara online. Total peserta yang ikut dalam pelaksanaan Kuliah Umum Online Nasional ini berjumlah 425 melalui Aplikasi Zoom dan melalui streaming youtube sebanyak 767 dari total pendaftar 1192.
Dalam paparan materinya, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc menyampaikan tentang Strategi Pemenuhan Bahan Pakan Lokal Unggas pada saat Pandemi Covid-19 dan New Normal. “Pabrik pakan dari data 104 pabrik pakan diluar ruminansia. Produksi pakan nasional diprediksi 21,27 ton. Untuk unggas masih mengandalkan bahan pakan impor khususnya sumber protein. Sejak pemerintah melawan impor jagung, maka ada penambahan jenis bahan pakan yang diimpor biasanya kita impor mbm. Bahan baku pakan ternak; Jagung, Bungkil kedelai, dan lain-lain. Kebutuhan jagung pertahun 10,850 jt ton, dedak padi 2,170 jt ton, bungkil kopra 1,085 jt ton, bungkil inti sawit 1,085 jt ton, CPO 1,085 jt ton, dan Cassava 1,828 jt ton. Kondisi dari bahan lokal terbagi menjadi musiman dan tidak musiman, setelah dianalis yang bermasalah yaitu musiman contohnya jagung, selain musiman teknologinya juga masih kurang. Seperti produksi menurun dan aksesnya kurang baik. Bahan pakan yang tidak musiman seperti bungkil kopra, inti sawit, mereka memiliki teknologi industri yang bagus.” Ucap Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc
Prof Nahrowi lebih lanjut menyampaikan bahwa tantangan industri pakan indonesia terletak pada aspek ketersediaan bahan pakan yang semakin sulit karena juga harus bersaing dengan manusa (food), ternak (feed), dan energi (fuel). Ketersediaan bahan baku pangan lokal juga masih bermasalah, selain jenisnya yang sedikit, kualitas tidak stabil, produksi skala kecil, harga yang mahal, juga dihadapkan pada apek kontinuitas suplainya. Kepastian suplai jagung yaitu pemakaian jagung dalam pakan 50-60%, sekarang hanya 35-45 % menggunakan bahan lokal dikarenakan pertimbangan harga yang mahal. Kondisi ini menurutnya diperparah dengan kondisi pandemi yang diikuti dengan peraturan pemerintah Pembatasan seperti PSBB mengharuskan seseorang bekerja dirumah yang dapat menyebabkan terhambatnya transportasi yang berakibat tidak hanya menghambat suplai bahan pakan, tetapi juga berdampak pada pengiriman DOC, pakan ternak serta pemotongan ayam.
Strategi yang Prof Nahrowi tawarkan ialah optimalisasi penggunaan bahan baku lokal yang diikuti dengan penggunaan teknologi tepat guna serta kolaborasi diantara stakeholder untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pada penggunaan bahan baku pakan lokal tersebut.
Disisi lain, Ir. Teddy Candinegara menyampaikan perspektif praktisi dibidang pakan ternak terutama tentang strategi pemenuhan bahan baku dan imbuhan pakan. Pembatasan impor bahan baku pakan, dan masih ditemukannya kendala pada pemanfaatan bahan baku pakan lokal yang pada umumnya masih dikelola secara konvensional, serta adanya aturan pemerintah tentang penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) dalam pakan, menyebabkan penggunaan feed additive dan feed supllement mendapatkan perhatian produsen pakan. walapun penggunaan dalam pakan persentasenya cukup rendah, (kurang dari 10%), namun cukup membantu mempertahankan pencapaian performa ternak terutama pada ternak unggas.
Selain feed supplement, sales director PT Behn Meyer Chemical ini juga memberi perhatian terhadap penggunaan obat hewan, terlebih pada saat ini masih banyak ditemukan dilapangan obat hewan ilegal yang beredar dan digunakan oleh peternak untuk meningkatkan efisiensi usahanya. Menurutnya, penelitian terkait bahan-bahan alami yang berpotensi sebagai obat hewan, perlu ditingkatkan.
Pasca pandemi, usaha juga harus berbenah dengan mengembangkan usaha berbasis digital platform, dan kolaborasi antar perusahaan sehingga dapat saling sharing produksi dan sharing resources, atau meluncurkan produk hasil kolaborasi (co-branding) tutup Ir. Teddy.






