Rumuskan Enam Model Strategi Inseminasi Buatan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Selatan Raih Gelar Doktor Peternakan Unhas

Makassar, 07 April 2026 – Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) kembali melaksanakan sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Peternakan dengan promovendus Ir. Taufiq, S.Pt., M.Si. yang berhasil mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Model Strategi Program Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi di Sulawesi Selatan.” 

Penelitian yang dilakukan Taufiq, yang juga selaku Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Sulawesi Selatan ini bertujuan untuk merumuskan model strategi program inseminasi buatan (IB) yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dua tahap terintegrasi, yaitu analisis kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) serta analisis kuantitatif berbasis data statistik peternakan kabupaten periode 2020–2024.

Tahap pertama penelitiannya yang bersifat kualitatif, Taufiq mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para inseminator, peternak, penyuluh, dinas peternakan, bahkan pelaku usaha dan media, sehingga teridentifikasi akar masalah di setiap stakeholder tersebut. Selanjutnya pada tahap kedua promovendus melakukan pengolahan data statistik peternakan seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan dari tahun 2020 hingga 2024, lalu secara cermat mengelompokkan wilayah berdasarkan populasi sapi betina produktif ke dalam empat kuartil (Q1 hingga Q4), pendekatan klasifikasi berbasis kuartil yang menjadi salah satu kebaruan (novelty) penelitiannya karena mampu mengungkap disparitas internal yang selama ini tersembunyi.

Berdasarkan integrasi temuan kualitatif dan kuantitatif tersebut, Taufiq tidak hanya memberikan diagnosis, tetapi juga menawarkan solusi berupa enam model strategi pengembangan IB yang saling melengkapi. Keenam model itu adalah:

  1. Model Strategi Pembagian Wilayah Berdasarkan Kapasitas Reproduksi (Regional Reproductive Capacity Classification Strategy Model),
  2. Model Strategi Efisiensi Berbasis Area (Area-Based Efficiency Strategy Model),
  3. Model Strategi Kemitraan Sosial-Teknis (Social-Technical Partnership Strategy Model),
  4. Model Strategi Efisiensi Reproduktif Digital (Digital Reproductive Efficiency Strategy Model),
  5. Model Strategi Penyeimbangan Institusional Adaptif (Adaptive Institutional Balancing Strategy Model), dan
  6. Model Strategi Kolaboratif Pemangku Kepentingan Adaptif (Adaptive Stakeholder Collaborative Strategy Model).

Salah satu temuan dari analisis Taufiq mengungkapkan bahwa wilayah dengan populasi sapi betina produktif tertinggi (Q4) seperti Bone, Wajo, Gowa, dan Maros justru tidak selalu menunjukkan efisiensi terbaik, sementara wilayah dengan populasi sedang (Q2 dan Q3) seperti Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, dan Soppeng memiliki tingkat partisipasi peternak dan efisiensi reproduksi yang lebih stabil, sedangkan wilayah berpopulasi rendah (Q1) mengalami cakupan layanan yang tinggi tetapi partisipasi peternak rendah. Hal tersebut menandakan bahwa peternak di sana belum sepenuhnya percaya pada teknologi IB. Berdasarkan disertasi tersebut, Taufiq dinyatakan lulus dan berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Peternakan sebagai lulusan S3 tahun 2026, dengan predikat Sangat Memuaskan.

Sidang promosi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si. sebagai ketua sidang, dengan promotor Prof. Dr. Ir. Aslina Asnawi, S.Pt., M.Si., IPM., ASEAN Eng. dan ko-promotor Prof. Dr. Ir. Muhammad Yusuf, S.Pt., IPU., sementara tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Ir. Hastang, M.Si., IPU., Dr. Ir. Siti Nurlaelah, S.Pt., M.Si., IPM., Prof. Dr. Hasbi, S.Pt., M.Si., serta penguji eksternal Prof. Dr. Ir. Syahruddin Said, M.Agr.Sc, IPU., ASEAN Eng (BRIN).

Bagikan