Dalam upaya mendorong praktik peternakan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, gaya hidup sehat serta mengurangi tumpukan sampah organik, tim dosen Fakultas Peternakan Unhas (Dr. Hajrawati, S.Pt.,M.Si dan drh. Farida Nur Yuliati, M.Si) menggelar pelatihan pengolahan limbah kulit buah-buahan menjadi eco-enzyme yang berlokasi di Desa Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa (09 Agustus 2026).
Kegiatan ini diikuti oleh karyawan PT. Celebes Agro Mandiri dan warga setempat (ibu rumah tangga) yang antusias menyimak penjelasan dari tim dosen dan terlibat langsung dalam praktik pembuatan eco-enzyme dari limbah kulit buah. Eco-enzyme sendiri merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik (kulit buah), gula merah, dan air yang memiliki beragam manfaat.
“Melalui fermentasi sederhana selama tiga bulan, campuran gula merah atau molase, limbah kulit buah, dan air (1:3:10) dapat menghasilkan cairan eco-enzyme yang kaya manfaat. Bagi peternak ayam pedaging, cairan ini sangat efektif untuk menghilangkan bau amonia pada kandang, menekan pertumbuhan bakteri patogen, dan jika diaplikasikan dengan dosis yang tepat pada air minum, dapat berfungsi sebagai probiotik alami untuk meningkatkan sistem imun dan pencernaan ayam. Selain itu, eco-enzyme dapat pula digunakan sebagai pembersih lantai, sabun cuci piring alami, hingga pupuk tanaman“, ujar drh. Farida Nur Yuliati, M.Si saat menyampaikan materi pembuatan eco-enzyme.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Hajrawati, S.Pt.,M.Si menyampaikan bahwa inovasi eco-enzyme merupakan solusi ganda bagi permasalahan lingkungan dan tantangan peternakan. Selama ini, limbah organik rumah tangga atau pasar, seperti kulit jeruk, nanas, dan pepaya, sering kali hanya dibuang dan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Lebih lanjut disampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini selaras dan berkontribusi langsung terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Penggunaan eco-enzyme untuk menekan gas amonia di kandang menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat bagi para peternak dan masyarakat sekitar kandang. Selain itu, potensi pengurangan penggunaan antibiotik kimia pada ayam menghasilkan produk daging yang lebih aman dikonsumsi.
- SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Mengurangi biaya operasional peternak untuk pembelian disinfektan kimia dan suplemen pabrikan, sehingga margin keuntungan peternak ayam pedaging dapat meningkat.
- SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab):Mendorong pengurangan volume sampah organik secara signifikan dengan mengubah limbah kulit buah menjadi produk bernilai guna.
- SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Mencegah limbah organik membusuk di TPA yang dapat melepaskan gas metana, yaitu salah satu gas rumah kaca penyumbang pemanasan global.
Kegiatan pelatihan ini disambut antusias oleh para peserta. Abdul Wahid, salah satu karyawan PT. Celebes Agro Mandiri, mengaku sangat terbantu dengan adanya inovasi ini. “Selama ini kami sering bermasalah dengan biaya disinfektan dan keluhan warga soal bau kandang. Dengan ilmu dari tim dosen Fapet Unhas, kami sekarang tahu cara membuat pembersih dan vitamin alami dari sampah kulit buah yang mudah didapatkan secara gratis,” ujarnya.
Ke depannya, tim pengabdian dari Fakultas Peternakan Unhas berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan kepada kelompok peternak hingga mereka mampu memproduksi dan mengaplikasikan eco-enzyme secara mandiri dan konsisten.






