Tim dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Bimbingan Teknis Budidaya Hijauan Unggul dan Pengelolaan Bank Pakan Mandiri di Peternak Desa Nepo” pada 30 Mei 2026 di Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peternak dalam mengelola pakan ternak secara mandiri guna mendukung usaha penggemukan ternak yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh dosen Unhas dari Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak yang tergabung dalam dua tim. Tim pertama terdiri atas Dr. A. Mujnisa, S.Pt., M.P., Jamilah, S.Pt., M.Si., dan Ashariah Hapila, S.Pt., M.Si. Tim kedua beranggotakan Prof. Dr. Ir. Budiman, M.P., Dr. Rinduwati, S.Pt., M.P., Marhamah Nadir, S.P., M.Si., Ph.D., dan Dr. Ir. Anie Asriany, M.Si..
Kegiatan dihadiri oleh para peternak setempat yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Turut hadir pula perwakilan Baznas Kabupaten Barru, Drs. Muh. Tahir, S.H., M.Si., yang selama ini menjalin kerja sama dengan kelompok tani dalam pengembangan usaha peternakan masyarakat.
Pada kesempatan pertama, materi disampaikan oleh Ashariah Hapila, S.Pt., M.Si. yang membahas strategi pengelolaan pakan untuk usaha penggemukan ternak. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa penggemukan ternak bertujuan meningkatkan bobot badan hewan secara optimal dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 3–6 bulan, dengan menghasilkan daging berkualitas tinggi serta menekan biaya produksi, khususnya biaya pakan. Menurut Ashariah, keberhasilan program penggemukan sangat ditentukan oleh kualitas dan ketepatan manajemen pemberian pakan.
Pakan ternak penggemukan terdiri atas dua komponen utama, yaitu hijauan sebagai sumber serat, seperti rumput gajah, rumput raja, jerami padi, dan daun leguminosa, serta konsentrat yang kaya energi dan protein, seperti dedak padi, tepung jagung, dan bungkil kedelai. Kebutuhan pakan diberikan sebanyak 3–4 persen dari bobot badan ternak dalam bentuk bahan kering.
Dalam sesi praktik dan diskusi, peserta juga diperkenalkan pada contoh formulasi ransum untuk sapi berbobot 250 kilogram yang membutuhkan sekitar 8,5 kilogram bahan kering per hari. Ransum tersebut dapat disusun dari kombinasi jerami fermentasi, rumput gajah, dedak padi, bungkil kelapa, tepung jagung, ampas tahu, molases, dan mineral mix.
Materi yang disampaikan mendapat sambutan positif dari para peserta. Selama ini sebagian besar peternak masih memberikan pakan dengan cara mencampurkan hijauan dan konsentrat secara bersamaan tanpa pengaturan jadwal pemberian yang tepat.
Pada kesempatan kedua, materi disampaikan oleh Marhamah Nadir, S.P., M.Si., Ph.D. yang membahas pentingnya pemanfaatan hijauan unggul sebagai sumber pakan utama ternak ruminansia. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa ketersediaan hijauan yang berkualitas secara berkelanjutan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas ternak dan efisiensi usaha peternakan.
Pemateri pada kesempatan ini juga memperkenalkan varietas baru rumput gajah unggul yang diperoleh dari Balai Penelitian Sumber Daya Genetik di Bogor. Rumput gajah generasi baru ini dirilis pada tahun 2021 dengan nama Biogras, Biovitas dan Bionutris. Ketiganya memiliki keunggulan yang berbeda.
Keunggulan biogras dengan biomassa yang tinggi, biovitas dengan adaptasi pada lahan marginal, dan bionutrisi dengan kandungan protein kasar yang tinggi mencapai 18% dibandingkan dengan varietas yang umum dibudidayakan oleh peternak selama ini.
Selain memiliki produktivitas yang lebih tinggi, Marhamah menjelaskan, varietas baru tersebut juga memiliki permukaan daun dan batang yang tidak berbulu kasar sehingga lebih nyaman saat dipanen dan tidak menyebabkan iritasi atau luka pada tangan peternak. Menurut Marhamah Nadir, penggunaan hijauan unggul dapat menjadi solusi untuk meningkatkan ketersediaan pakan sepanjang tahun sekaligus menekan biaya produksi peternakan.
Selain memperkenalkan rumput gajah unggul, tim pengabdian juga mengenalkan tanaman leguminosa Indigofera yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan sangat baik digunakan sebagai pakan tambahan ternak. Indigofera dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas nutrisi ransum sehingga mendukung pertumbuhan dan produktivitas ternak secara optimal.
Sebagai bentuk dukungan nyata kepada peternak, pada akhir kegiatan tim pengabdian membagikan stek rumput gajah unggul dan bibit Indigofera kepada peserta yang hadir. Bantuan tersebut diharapkan dapat segera ditanam dan dikembangkan di lahan masing-masing sehingga dapat menjadi sumber pakan berkualitas bagi ternak mereka.
Melalui kegiatan diseminasi dan bimbingan teknis ini, diharapkan peternak di Desa Nepo semakin memahami pentingnya pengelolaan sumber pakan berkualitas dan mampu mengembangkan hijauan secara mandiri. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat peternak diharapkan terus berlanjut guna mendukung pengembangan peternakan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Kabupaten Barru.




