Dosen Fakultas Peternakan yaitu Ibu Prof. Dr. drh. Ratmawati Malaka, M.Sc dan Ibu Dr. Kasmiyati Kasim, S.Pt., M.Si beserta mahasiswa Program Studi Magister Ilmu dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (FAPET UNHAS), menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat dan Praktik Lapang bertema “Pengendalian Penyakit pada Ternak” di Desa Palakka, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Minggu (7/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Barru, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Desa Palakka, anggota kelompok tani ternak, para peternak, dan mahasiswa prodi S3 Ilmu Peternakan. Acara ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang rutin dilakukan oleh dosen Fakultas Peternakan dan dirangkaikan dengan praktik lapang mahasiswa prodi S2 Ilmu dan Teknologi Peternakan dalam mata kuliah Teknologi dan Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Dalam sambutannya, perwakilan Dinas Peternakan Kabupaten Barru menyampaikan bahwa penyakit mulut dan kuku (PMK) sempat menurunkan populasi sapi di wilayah tersebut. Upaya yang telah dilakukan dinas meliputi vaksinasi, penyuluhan, serta peningkatan ekonomi rumah tangga peternak melalui inseminasi buatan dengan berbagai jenis sapi dan sinkronisasi birahi guna meningkatkan populasi ternak.
Meskipun PMK kini sudah dapat diatasi, penyakit Jembrana masih menjadi kendala utama. Harga vaksin Jembrana yang mahal sempat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui Dinas Peternakan setempat.
Prof. Dr. drh. Ratmawati Malaka, M.Sc selaku koordinator Mata Kuliah Teknologi dan Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa S2 bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada peternak terkait pencegahan penyakit ternak.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik lapang yaitu mahasiswa presentasi secara kelompok untuk menjelaskan empat penyakit utama pada ternak, yaitu PMK, Jembrana, Brucellosis, dan Surra. Keempat penyakit ini dinilai sangat merugikan peternak karena menurunkan produktivitas, menyebabkan gangguan reproduksi, dan berpotensi menimbulkan kematian pada ternak. PMK disebabkan oleh virus Aphthovirus dengan gejala khas demam tinggi, air liur berlebihan, serta luka pada mulut dan kuku. Penularannya melalui kontak langsung, perantara manusia, peralatan, dan udara. Jembrana disebabkan oleh virus JDV dari famili Retroviridae yang menyerang sapi Bali dengan gejala demam 40–42 °C, pembengkakan kelenjar, dan perdarahan. Penularan terjadi melalui kontak langsung, vektor lalat, peralatan, dan perdagangan ternak. Brucellosis adalah penyakit bakteri zoonosis akibat Brucella spp. yang menyebabkan aborsi, orchitis, dan penurunan produksi susu. Penularan melalui cairan kelahiran, luka, pakan atau air kotor, serta kontak antarternak. Diagnosis dilakukan dengan uji serologi RBT/SAT. Surra disebabkan oleh parasit Trypanosoma evansi yang ditularkan oleh vektor lalat Tabanus dan Stomoxys, serta menurunkan produktivitas ternak secara signifikan.
Keempat penyakit ini menekankan pentingnya deteksi dini melalui pengamatan gejala dan uji laboratorium, serta pengendalian terpadu berupa biosekuriti kandang, kontrol vektor, vaksinasi, stamping out, dan pengobatan. Peran penyuluh serta dinas peternakan sangat krusial dalam meningkatkan kesadaran peternak untuk melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit, sehingga populasi ternak tetap sehat dan ekonomi peternak terjaga.
Pada sesi tanya jawab, para peternak menanyakan tindakan yang harus dilakukan jika ternak terjangkit PMK dan Jembrana. Prof. Dr. drh. Ratmawati Malaka, M.Sc menjelaskan bahwa untuk PMK, solusinya adalah stamping out, yaitu pemotongan dan pembakaran ternak yang sakit agar virus tidak menyebar, mengingat penyakit ini bersifat zoonosis. Sementara untuk penyakit Jembrana yang ditularkan melalui vektor nyamuk dan caplak, pencegahan dilakukan dengan memusnahkan ternak sakit, vaksinasi pada ternak sehat, serta pemberian serum antibodi. Peternak juga mempertanyakan ketersediaan vaksin Jembrana dan biaya operasionalnya. Dinas memastikan bahwa vaksin PMK dan Jembrana sudah tersedia di Kabupaten Barru.






