Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak wirausaha muda berbasis lingkungan dengan menggelar kuliah umum bertajuk “Ketika Sampah Membawa Berkah, dari Trash Menjadi Cash”. Acara ini berlangsung di Aula Fakultas Peternakan (Rabu, 29 April 2026) diikuti oleh mahasiswa yang antusias dan ingin mendalami bagaimana sampah organik dapat disulap menjadi peluang emas.
Pembicara utama dalam kuliah umum ini adalah Aminudi, CEO Biomagg, suatu perusahaan rintisan (startup) dan penyedia solusi pengolahan sampah organik skala industri menggunakan teknologi biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Aminudi, dalam memulai materinya, membagikan pengalamannya dalam merintis usahanya yang penuh dengan inspirasi bagi mahasiswa. Mengawali usaha dari skala kecil-kecilan dengan modal terbatas, Aminudi tidak pernah menyangka bahwa ketekunannya menggeluti budidaya Black Soldier Fly (BSF) akan membawanya meraih prestasi nasional. Ia berhasil menjadi Juara 1 dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri dan membawa pulang hadiah sebesar Rp1 miliar.
“Hanya dengan 100 gram biomagg sudah cukup untuk memproses hingga 1 ton sampah organik. ini bukan sekadar angka, ini adalah lompatan efisiensi yang selama ini tidak pernah kita bayangkan. Sampah yang biasanya berbulan-bulan menumpuk di TPA, bisa habis dalam waktu singkat oleh makhluk kecil bernama maggot” ujar Aminudi ketika membeberkan fakta mengejutkan tentang efisiensi maggot.
Lebih lanjut, Aminudi memaparkan bahwa proses biokonversi yang ia perkenalkan tidak hanya sekadar mengurai sampah, tetapi juga menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi, seperti Maggot Meal (tepung maggot sebagai pakan ternak kaya protein), Maggot Oil (minyak maggot untuk berbagai keperluan industri), Wound Medicine (obat luka yang telah teruji khasiatnya), Natural Soap, Aromatherapy, serta Liquid Soap.
Kuliah umum ini tidak hanya berbicara tentang bisnis semata, tetapi juga selaras dengan komitmen Global Sustainable Development Goals (SDGs) tepatnya poin ke-12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dengan mengubah sampah organik menjadi produk bernilai tambah, rantai limbah diputus dan digantikan oleh ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Sampah yang semula berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana (penyumbang efek rumah kaca) kini diolah menjadi bahan baku industri. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program hibah LCDI-ITF (Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund) dengan menghadirkan expert dari industri yang relevan.
Dengan adanya kuliah umum ini, menjadi bukti bahwa fapet unhas terus bergerak maju tidak hanya dalam ilmu peternakan konvensional, tetapi juga dalam ekonomi sirkular berbasis agrikultur dan lingkungan. Diharapkan semakin banyak mahasiswa dan generasi muda yang terinspirasi untuk berwirausaha di bidang ekonomi sirkular, sekaligus ikut serta dalam menyelesaikan masalah sampah nasional.
Kuliah umum ini dihadiri Dekan Fapet Unhas, Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU, yang membuka acara secara resmi, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan, Prof. Dr. Muhammad Ihsan A. Dagong, S.Pt., M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Syahdar menekankan bahwa program ini merupakan komitmen dan kontribusi Fakultas Peternakan dalam menangani sampah kota Makassar dan menunjukkan bahwa isu pengelolaan sampah organik melalui teknologi biokonversi bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi gerakan nyata di lingkungan kampus.
Kegiatan kuliah umum tersebut menurutnya akan dilanjutkan dengan program lain seperti workshop pemanfaatan maggot hingga pilot project pada level peternak lokal. Kegiatan kuliah umum ini sukses menunjukkan bahwa sampah yang dianggap masalah dan berakhir di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) justru merupakan titik awal suatu usaha yang memiliki nilai ekonomi, proteksi terhadap lingkungan, dan pembangunan masa depan yang lebih berkelanjutan.





