Makassar, 19 Oktober 2026. Setelah ditetapkan sebagai penerima manfaat Proyek Hibah Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) dan resmi menandatangani perjanjian kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) pada April 2026, Fakultas Peternakan yang bekerja sama dengan Unit Kerja Khusus (UKK) Pengelolaan Sampah Terpadu Unhas mengembangkan unit pengelolaan sampah secara terpadu berbasis ekonomi sirkular. Pengelolaan sampah terpadu dimaksudkan untuk mengurangi sampah di lingkungan kampus serta menjadi penggerak ekonomi baru. Unit tersebut mengelola sampah organik dari lingkungan kampus dengan memanfaatkan maggot BSF, memproduksi pupuk organik yang melibatkan cacing tanah, serta mengembangkan ayam lokal unggul Alope Unhas-1 dengan pakan bersumber pada produk maggot dan cacing tanah.
Proyek LCDI-ITF yang didanai dari kerja sama dengan Pemerintah Inggris dan BPDLH ini secara resmi diluncurkan pada Senin, 19 Oktober 2026 oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, didampingi oleh Rektor Unhas Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Dekan Fakultas Peternakan Prof. Dr. Syahdar Baba, M.Si., serta beberapa tamu undangan lainnya.
Pada kegiatan peresmian tersebut, Duta Besar Jermey dan tim melihat secara langsung alur pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan mesin pencacah, unit biodigester, unit pembesaran dan produksi tepung maggot, unit pembesaran ayam Alope Unhas-1, serta unit pengelolaan sampah berbasis cacing tanah (Lumbricus rubellus).
Pada kesempatan tersebut, Jermey mengemukakan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan positif yang telah dijalankan Unhas melalui Fakultas Peternakan dan berharap bahwa kegiatan serupa dapat dikembangkan pula di unit-unit atau perguruan tinggi lainnya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rangkaian kegiatan pada proyek LCDI-ITF merupakan salah satu upaya untuk membangun ekonomi sirkular yang berdampak pada lingkungan, terutama dalam upaya mengurangi emisi karbon dari produksi sampah sehari-hari.
“Kita tidak dapat mengatasi perubahan iklim tanpa mengembangkan sumber daya manusia. Kita membutuhkan orang-orang yang mampu menghasilkan gagasan dan teknologi baru, membangun usaha, serta mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” jelas Jermey.
Prof. Jamaluddin Jompa yang mendampingi Duta Besar Jermey pada kesempatan tersebut juga mendorong agar pengelolaan sampah terpadu yang unit pengembangannya didanai dari hasil kolaborasi dengan pemerintah Inggris dapat segera rampung dan beroperasi dengan baik sehingga menjadi contoh nyata tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Dekan Fakultas Peternakan Prof. Syahdar juga menyampaikan komitmen untuk mendukung penuh kegiatan pengembangan ekonomi hijau tersebut. “Melalui kegiatan ini, sampah organik yang selama ini menjadi permasalahan, dapat menjadi sumber ekonomi baru dengan beberapa jenis produk bernilai ekonomi tinggi yang dihasilkan dari aplikasi teknologi sederhana dengan memanfaatkan siklus hidup maggot, cacing dan ayam lokal”, jelas Prof. Syahdar.






